Minggu, 06 Januari 2019

Ingat! Kopi Bukan untuk Begadang!



Di sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, saya menulis. Mengisi blog itu menyenangkan. Bagi saya ini refreshing hati. 
Badan letih tetapi pikiran meminta terjaga. Mata mengantuk, namun hati dan jemari ingin bergerak di atas keyboard. Saya butuh obat begadang. Beberapa bulan lalu, saya mulai coba 'resep andalan': kopi hitam. 

Baca juga: Resep Andalan Agar Punya Kulit Putih: Pakai Serum Pemutih Badan

Memang benar, kafein kopi hitam membalikkan kerja senyawa kantuk. Jantung terstimulus lebih kencang, tekanan darah meninggi, otot-otot berkontraksi. Dari sinilah energi begadang mengalir, membuat lancar menarikan jemari bersama Snow, netbook.

Namun sifat diuretiknya membuat saya sering buang air kecil. Konsentrasi menulis mengecil! Baru dapat beberapa halaman, ‘pamit ke belakang’. Belum lagi aroma air seni ‘aduhai’, membuat menurun drastisnya persediaan air di bak kamar mandi.

Kafein kopi hitam bersifat stimultan, pemicu sesaat. Saat efeknya menghilang, kantuk datang. Bantal empuk tampak menggoda untuk ditiduri lalu lelap hingga bangun kesiangan! Sejak saat itu, saya sadar bahwa kopi hitam bukan untuk begadang. Tetapi untuk melancarkan air seni dan mengurangi resiko penyakit batu ginjal.

Hingga dua bulan lalu, saya masih setia dengan kopi hitam. Tidak ada pilihan lain untuk membuat mata terjaga, walau efek 'melek' kian berkurang karena mungkin tubuh saya sudah bisa mengindikasi adanya kafein yang 'memaksa' kerja jantung dan mulai 'menolaknya'. 'Melek' sejam-dua jam lumayan menghasilkan tulisan. Efek ini berbeda-beda pada tiap orang, tergantung pada respon tubuh menanggapi kafein dalam aliran darah.



Menghirup khasnya aroma kopi serta menyesap rasa pahit tapi memikat, bak memaknai hidup. Kehidupan itu menyenangkan, sama seperti aroma kopi yang membuat rileks. Tetapi, terasa pahit karena 'keras'. Kita tidak bisa hanya bersantai menikmati karuniaNYA, harus berjuang. Kegiatan kecil seperti bernafas merupakan salah satu usaha manusia untuk bertahan hidup.

Walau sebelum diseduh, semua kopi itu sama hitamnya, tapi proses pengolahan berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda. Pengecapan rasa perlu kesensitifan lidah. Ini yang juga dipelajari saat berteman kopi hitam. Menjadi seorang penulis harus 'sensitif'. Butuh proses yang lama agar tulisan semakin 'manis'. Penulis itu pandai memainkan alur dan memasukkan 'rasa' dalam tiap kata-kata sehingga pembaca dapat merasakan sesuatu yang 'wah' dan berbeda. Juga dapat memilah mana kisah yang ingin dihaturkan dengan menilik keadaan sekitar.


Namun, kenikmatan kopi hitam tak berlangsung lama. Dua minggu dari kala itu, saya kian pusing bila memaksa mata terus bekerja. Padahal dua-tiga cangkir kopi hitam tandas. Konsentrasi semakin buyar. Tulisan yang dihasilkan jadi asal.

Karena jam istirahat berkurang, ketahanan tubuh menurun. Influenza melanda dan membuat tak berdaya. Saya hentikan kebiasaan minum kopi hitam. 

Saya lalu mencoba kopi luwak. Rasanya lebih 'ringan' walau aroma air kencing MasyaAllah. Rupanya kafein kopi jenis ini rendah, jadi lebih santai menuangkan ide dan langsung terlelap usainya. Semenjak itu saya berkata, "Selamat datang kopi luwak, teman menulisku!"

Saya tidak lagi mencari efek begadang, tetapi 'santai dalam berkarya'. Tidak perlu 'ngoyo'. Rasanya seperti 'terpaksa' dan hasil paksaan biasanya tidak bagus. Jadi biarkan otak mencari inspirasi bebas dengan bantuan stimulus ringan.



Kopi bisa menjadi musuh bila salah memperlakukannya. Jika diseduh dalam air mendidih akan mengubah kandungan protein di dalamnya, dari HDL (High Density Lipoprotein) menjadi LDL (Low Density Lipoprotein), sang kolesterol jahat. Inilah penggerogot kesehatan yang sering tidak disadari.

Suatu kali, coba cappucino dan langsung menyukainya. Busa melimpah, kreasi taburan cokelat, terlihat lucu dan membuat bahagia. Saya menganggap cappucino sebagai teman penyapa sang surya.

Karena dicampur dengan creamer atau susu, maka protein dalam cappucino 'terikat'. Susu bisa melumpuhkan kandungan makanan lainnya. Itulah mengapa dilarang minum obat atau vitamin menggunakan susu. Hal ini juga berlaku pada kopi, walau cappucino memang nikmat dan aromanya memikat! Tapi tidak masalah kan, toh tubuh kita mendapatkan lebih banyak asupan protein dari makanan lain seperti lauk-pauk saat makan 3 kali sehari.

Cappucino yang sangat 'ringan' tidak membuat jantung deg-degan. Kehangatan cappucino dan busa yang menggelitik lidah, membuat saya betah berlama-lama bersamanya. Dinginnya pagi jadi tak terasa.

Banyak orang menikmati pagi dengan segelas teh hangat. Tetapi saya tidak bisa. Saya menderita anemia, hemoglobin bisa terikat zat dalam teh dan membuat oksigen yang harusnya mengalir dalam tubuh berkurang. Bisa-bisa semakin lemas dan mudah mengantuk karena minimnya suplai oksigen dalam otak.



Dengan menikmati segelas cappucino serta hiasan bubuk cokelat berbentuk senyum, membuat saya kian bergairah bekerja dan memulai menulis laporan pagi dengan ceria.

Terima kasih kopi! Sebagai penulis, saya menyukaimu!


22 komentar:

  1. saya minum kopi malah sakit perut, heu. Kenapa yes, tapi juga susah tidur, kirain enggak ngaruh wkwk. Abis itu kalo mau minum kopi kapok malem-malem nanti susah tidur hihi.

    BalasHapus
  2. Kopi emang temannya penulis! Hidup kopi :D

    BalasHapus
  3. Sampai saat ini aku nggak minum kopi hitam. Tapi kalau banyak campurannya, seperti susu, krimer masih doyan.

    BalasHapus
  4. oo gitu, kalau diseduh di air mendidih malah gak baik, padahal kan sering banget saya lihat.
    Saya bukan penikmat kopi. Apalagi kopi hitam. Kadang-kadang icip-icip, kalau lagi ada kangen dengan aromanya

    BalasHapus
  5. Kalau saya nggak suka kopi, sekaragf teh pun sangat mengurangi, lebih banyak air putih aja sih lebih segar...

    BalasHapus
  6. Saya malah mau menjauhi kopi. Jadi ingat zaman kuliah dulu, hampir setiap malam nulis sambil ditemani segelas kopi. Sekarang mah insyaf, ingat umur, hehehe

    BalasHapus
  7. Saya peminum kopi sejak kuliah dulu. Awalnya karena kebutuhan untuk begadang mengerjakan tugas. Kalau sekarang, sekadar untuk menikmati cita rasanya saja. Kalau saya, malah lebih cocok dengan kopi hitam. Kopi dengan creamer, susu atau kopi sachet malah bikin perut saya suka sakit. Saya sendiri enggak tahu kenapa bisa begitu,hehe. Tapi saya hanya berani konsumsi maksimal 2 cangkir, krn saya sedang menyusui.

    BalasHapus
  8. Toss, Mbak
    Saya dulu ngopi parah 3-4 cangkir sehari waktu masih gadis. Karena kerjanya shift. Jadi kayaknya ritme tubuh kacau dan saya tergantung pada kopi hiks.
    Tapi setelah nikah dan hamil jadi berkurang. Sekarang kopi yang ringan saja seperti capuchino 1-2 cangkir saja seharinya.

    BalasHapus
  9. Saya malah kurang bisa capucino, Mbak. Mulut saya rasanya jadi asam kalau habis minum Capucino, jadi masih nyandu kopi hitam kental, hehe. Tapi sekarang 2 cangkir saja. Pagi satu, sore satu. Kadang masih pengin nambah, sih. Jadi kudu nahan godaan.

    BalasHapus
  10. I am not coffe person. tapi kalau butuh ngerjain sesuatu tapi mata ngantuk ya kopi jadi andalan. Sama kita mbak, kopi luwal jadi pilihan biar nggak bikin jantung deg-deg-an.

    BalasHapus
  11. Aku bukan coffe addict, sejujurnya malah menghindari banget. Dulu pernah minum kopi, abis itu enggak bisa tidur semalaman. Hahaha

    Jadi buatku, minum kopi adalah senjata paling akhir kalau dikejar deadline yang dila-gilaan. I do prefer coklat sih sebenernya. Meski kopi is okay, hehe

    BalasHapus
  12. Aku minumnya kopi gunting (kopi sachet). Hehe...Diketawain sih ama penggemar kopi, katanya itu bukan kopi...
    Biarin deh...Suka engga bisa tidur kalau kopi beneran. Badan capek, tapi mata melotot...Huf...engga nyaman...

    BalasHapus
  13. aku sih minum kopi tetep aja ngantuk, wkkwkw. dan gak bisa minum kopi item yang setrong. paling bisa kopi susu 3 in 1 gitu mba. kalo yang kopi bener kopi, aku langsung berasa dag-dig-duerrrr

    BalasHapus
  14. Ada decaf mbak, kopi tanpa caffeine...;)
    walau caffeine di kopi punya reputasi buruk, moderate size dalam mengkonsumsinya bisa menghambat Type2 diabetes dan Alzheimer's disease, dan mengurangi resiko Parkinson's disease
    Good news, kandungan antioxidants dalam secangkir kopi lebih banyak daripada jus jeruk/anggur/raspberry

    BalasHapus
  15. lagi kuliah coba2 minum kopi karena ngantuk mau belajar tapi bukan melek tapi perutnya malah mual

    BalasHapus
  16. Kenapa ya, kopi selalu identik dg penulis?

    BalasHapus
  17. Saya minum kopi kalo pas tiba di kantor lalu merasa ngantuk padahal di kantor kan ga boleh tidur, kudu kerja. Tapi biasanya yang ringan-ringan aja. Kopi dikittt tambahin krimer sama gula. Seduh air panas. Udah..

    BalasHapus
  18. Saya suka kopi sejak kecil. Dulu saya tahunya kopi diseduh dengan air panas, setelah menikah kata suami kopi harus diseduh dengan air mendidih, bahkan kopi Aceh harus direbus bersamaan dengan kopinya. Tapi ternyata dapat meningkatkan kolesterol jahat ya mbak....

    BalasHapus
  19. aku dulu suka banget ngopi di saat pagi hari sebelum berangkat kuliah, perlahan aku hindari kopi karena ternyata bikin asam lambungku naik. Namun ketika mampir ke coffee shop, aku selalu pesan cappucino dengan tambahan coklat hehe

    BalasHapus
  20. Saya pun belum bisa lepas dr kopi mb
    Sejak sma
    Sedih sih
    Pdhl juga dah tau klo kopi itu g baik

    BalasHapus
  21. Wahaha saya tidak begitu suka kopi sih, apalagi untuk masalah begadang-begadang. Jauh-jauh saya ih.

    BalasHapus